Hah!!pejam celik-pejam celik dah masuk fatrah imtihan.Mesti kengkawan tengah sibuk mebaca ye.Tapi ana nak berkongsikan tips2 untuk menghadapi peperiksaan.Biarlah ianya tak seberapa cuma ambillah walaupun sebutir mutiara agar boleh dibawa bersama dengan pembelajaran kalian...Sama-sama kita upgrade kemampuan diri ye(^_^)
1. Malam sebelum exam, tidur dalam keadaan tenang. Jangan gelabah atau risau atau takut.
2. Sehari sebelum exam semak kad pengenalan,matrix serta butir-butir lain yang penting dadn isi dalam beg siap-siap.
3. Pastikan semua alat tulis lengkap. Kalkulator, jangka lukis, benang (geografi), dan protractor pastikan disertakan sekali.
4. Banyak-banyak doa sebelum tidur.
5. Kalau sempat, tiap-tiap malam masa exam tu amalkan tahajud.
6. Jika diizinkan, puasalah. Kalau tak dapat, cukuplah mengajak ibu bapa berpuasa.
7. Minta maaf pada semua orang termasuk rakan-rakan, famili, kerabat serta kenalan yang lain.
8. Doakan kejayaan untuk rakan-rakan juga.
9. Mulakan setiap paper dengan bismillah.
Itulah perkataan pertama yang terkeluar bila anda sentuh kertas soalan dan perkataan alhamdulillah perkataan terakhir yang keluar bila pengawas kutip kertas soalan.
10. Tawakal kepada Allah. Tawakal di sini bermaksud, jaga hubungan baik anda dengan Allah, ibu bapa, rakan-rakan. Istiqamah dalam setiap amalan dan jangan putus-putus berdoa. Insyaallah.
Good Luck ya!!
♥♥Lebaran ukhwah♥♥
Showing posts with label nukilan catatan. Show all posts
Showing posts with label nukilan catatan. Show all posts
Tazakirah 'speacial' untuk mujahidah!
Bismillahirrahmanirrahim,
Sungguh beruntung menjadi orang yang terpilih, menjadi seorang da'i. Mau tidak mau, suka tidak suka karena ia tidak hidup sendiri. Ada orang lain yang menjadi obyek dakwahnya. Keluarga, anak-anak, tetangga, teman sekolah, kampus, kerja dan siapa saja yang berinteraksi dengannya. Ia tidak dapat mengelak, ketika disadari bahwa ia adalah seorang muslimah maka ia membawa panji keislamannya. Ketika ia adalah seorang mahasiswi di kampusnya maka ia wajib menjaga nama baik almamaternya. Ketika ia adalah seorang kader dakwah maka ia membawa identitasnya dan segala tindak-tanduk yang ia perbuat akan mencerminkan wajihahnya tersebut. Meskipun ada khauf (takut) ketika terbayang bahwa kita belum mampu mengemban amanah ini dengan baik, di satu sisi saya yakin ia juga menyimpan roja (harapan) agar bisa menjadi satu bagian dari batu bata penyusun peradaban tegaknya Al-Islam di bumi ini.
Dalam firman Allah Surah Fushshilat (41:33) "Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal shalih, dan berkata, 'Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?'". Ayat ini menjadi pilar bagi para aktivis muslimah untuk selalu membekali diri lalu terjun dengan ikhlas hanya mengharap ridho Allah di setiap geraknya. Ia tidak akan meremehkan sekecil apapun amal sholeh untuk fastabiqul khoirot, berlomba-lomba dalam kebajikan. Keistiqomahannya akan selalu diuji seiring dengan perjalanan karir dakwahnya.
Adapun beberapa tadzkirah/peringatan dan nasehat untuk mujahidah dakwah* :
Pertama, sesungguhnya fungsi seorang daiyah bukanlah memukul dan menegur manusia dengan keras. Bukan pula mengorek aib dan mencela mereka.
"Serulah mereka ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik serta bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu adalah Yang lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (Qs. an-Nahl [16]: 125).
Kedua, jalan dakwah ini penuh dengan rintangan
Jalan dakwah tidak semulus jalan tol. Pejuang dakwah muslimah tentu pernah merasakan mendapat deraan, cobaan dan permasalahan dengan kadar dan tingkat berbeda-beda. Pemenang sejati adalah yang sabar melaluinya, menghadapinya dengan segala hikmah. Tidak sedikit yang akhirnya menyerah, putus asa bahkan kabur dari gelanggang dakwah karena tidak sabar. Ia pikir dakwah mudah dilalui dengan instan, cepat menghasilkan. Padalah Nabi Nuh AS saja yang berdakwah selama 5 abad dan notabene ia adalah seorang Rasul hanya mendapatkan sedikit sekali pengikut. Hal ini juga terjadi di semua lini dakwah. Seungguhnya fokus utama bukanlah pada result/hasil namun pada process/proses, karena Allah sangat menghargai sebuah proses yang dilakukan hamba-Nya apalagi jika itu berbuah keridhoan-Nya.
"Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan dari orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu dan orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu sabar dan bertaqwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan" Ali Imran [3]: 186
Ketiga, hendaknya seorang daiyah selalu merasa gelisah dengan kondisi manusia dan tidak berputus asa. Ketika melihat seorang perempuan yang dengan bangganya mengumbar dan memamerkan auratnya, tidak menjaga kehormatannya, hati kita perih. Ketika melihat para wanita menjadi korban asusila, kekerasan rumah tangga dan perdagangan manusia nurani kita terpanggil untuk membelanya. Dengan sigap merespon dan mengambil sikap sesuai dengan kapasitasnya. Di tempat kita berpijak, banyak menyuguhkan pelbagai permasalahan perempuan yang harus ditangani dengan serius.
Keempat, sesungguhnya jalan dakwah ini dipenuhi oleh orang-oang yang kembali, murtad dan berbalik ke belakang (kepada kekafiran). Hendaknya kita bersabar dan tidak membebani mereka dengan sesuatu yang tidak mereka mampui. Kita dituntut untuk bijak dalam kondisi apapun.
Kelima, hendaknya seorang daiyah memperhatikan aspek pembinaan dan pengembangan jiwa sesuai kemampuan, ilmu dan akhlak yang dimilikinya. Membiasakan diri melakukan kegiatan yang baik.
Memprioritaskan amal dalam setiap perbuatannya, mendahulukan wajib dari yang sunnah, mendahulukan sunnah dari yang mubah. Ia berusaha dalam sehari tidak ada pada kamusnya kegiatan yang sia-sia. Coba cek kembali agenda harian kita, sudahkah porsinya tepat? Sudah tertunaikankah wajibat-wajibat yang harus kita penuhi sebagai kader dakwah?
Saya jadi teringat kisah seorang ummahat dalam sebuah buku non fiksi, kumpulan cerita kader dakwah dengan segala lika-liku perjuangannya. Ia adalah seorang ibu rumah tangga namun banyak mengisi ta'lim, pengajian dan kajian baik di lingkungan rumah atau lainnya. Ia tidur jam 10 malam lalu bangun jam 2 pagi kemudian tahajjud dan bersiap melakukan pekerjaan rumah, mencuci, menggosok, membersihkan rumah dan akhirnya pada pagi hari ia telah siap dengan sarapan yang ia buat untuk seluruh anggota keluarganya. Ia juga telah menyiapkan segala keperluan sekolah anak dan kerja suaminya. Ia tidak melewatkan satu kesempatan amal sholeh, sekecil apapun. Itulah yang ia ajarkan pada putra putrinya.Sedangkan siang harinya ia begitu lincah berperan di medan dakwahnya. Subhanallah. Terngiang-ngiang kembali perjuangan para shahabiyah Nabi yang totalitas dalam jihadnya. So Inspirized me.
Keenam, menjauhkan aspek individualis dari dakwah, karena dakwah tidak terbatas pada perorangan, kelompok atau lembaga.
Dakwah dikerjakan oleh orang-orang yang berjamaah tidak sendiri. Kita berdakwah bukan semata-mata ingin masuk surga sendirian. Bukan hanya meningkatkan kualitas diri pribadi namun menyiapkan kader dakwah, daiyah sholehah sebanyak-banyaknya agar pekerjaan dakwah menjadi lebih ringan. Ingatlah bahwa kaum kuffar tidak akan pernah berhenti bahkan tidak tidur demi menghancurkan generasi muda Islam.
Ketujuh, target dari dakwah ini bukan menjatuhkan martabat orang tertentu. Tujuan Nabi Musa AS berdakwah kepada Fir'aun bukan untuk menghakiminya namun agar memurnikan aqidahnya untuk Allah semata. Oleh karena itu sebaiknya jauhi sikap mencaci dan mencela dalam berdakwah. Seorang muslim tidak akan dengan mudah mengkafirkan muslim lainnya. Pejuang dakwah datang untuk menjatuhkan kebathilan. Saya jadi teringat sebuah nasyid yang sangat menggugah. Nasyid Izzatul Islam 'Tekad' yang saya yakin sering menjadi list di media player komputer para aktivis dakwah.
........
Kami adalah panah-panah terbujur
Yang siap dilepaskan dari busur
Tuju sasaran, siapapun pemanahnya
Kami adalah pedang-pedang terhunus
Yang siap terayun menebas musuh
Tiada peduli siapapun pemegangnya
Asalkan ikhlas di hati tuk hanya Ridho Ilahi...Robbi
Kami adalah tombak-tombak berjajar
Yang siap dilontarkan dan menghujam
Menembus dada lantakkan keangkuhan
Kami adalah butir-butir peluru
Yang siap ditembakkan dan melaju
Mengoyak dan menumbang kezaliman
Asalkan ikhlas di hati tuk jumpa wajah Ilahi...Robbi
Kami adalah mata pena yang tajam
Yang siap menuliskan kebenaran
Tanpa ragu ungkapkan keadilan
Kami pisau belati yang selalu tajam
Bak kesabaran yang tak pernah akan padam
Tuk arungi dakwah ini , jalan panjang
.....
Kedelapan, dakwah kepada Allah adalah dakwah dengan bashirah (hujan yang nyata), bashirah dalam segala hal, mulai dari jalan dakwah yang lururs, ilmu yang lururs, kondisi dan keadaan obyek dakwah, musuh dakwah dan metode yang kita gunakan, dan bashirah dengan dirinya sendiri agar ia mengetahui keinginan dan niatnya hingga tidak menjadi bias dengan urusan lain dan tercemar dengan urusan-urusan tertentu. Ingat bahwa segala amal tergantung pada niatnya. Saya berkhusnuzhon bahwa para muslimah yang begabung di jalan ini bukanlah orang-orang yang hanya ingin numpang ketenaran, memenuhi list pengalaman untuk CV nya, keren-kerenan pasang badan atau (naudzubillahimindzalik) ingin menghancurkan dari dalam. Saya juga yakin bahwa mereka adalah muslimah yang peka, tanggap, solutif dan insya Allah akan selalu istiqomah dalam jalan yang telah Allah gariskan meski mereka harus mengorbankan waktu, peluh, harta bahkan mempertaruhkan nyawa karena mereka adalah generasi rabbani yang dekat dengan tuhannya.
*disarikan dari buku Kiprah Dakwah Muslimah
Tulisan ini dibuat untuk mentaujih diri pribadi dan saudara-saudari seiman yang kucinta karena Allah. Keep hamasah kawan!! Ummat menunggu uluran tanganmu!!
Sungguh beruntung menjadi orang yang terpilih, menjadi seorang da'i. Mau tidak mau, suka tidak suka karena ia tidak hidup sendiri. Ada orang lain yang menjadi obyek dakwahnya. Keluarga, anak-anak, tetangga, teman sekolah, kampus, kerja dan siapa saja yang berinteraksi dengannya. Ia tidak dapat mengelak, ketika disadari bahwa ia adalah seorang muslimah maka ia membawa panji keislamannya. Ketika ia adalah seorang mahasiswi di kampusnya maka ia wajib menjaga nama baik almamaternya. Ketika ia adalah seorang kader dakwah maka ia membawa identitasnya dan segala tindak-tanduk yang ia perbuat akan mencerminkan wajihahnya tersebut. Meskipun ada khauf (takut) ketika terbayang bahwa kita belum mampu mengemban amanah ini dengan baik, di satu sisi saya yakin ia juga menyimpan roja (harapan) agar bisa menjadi satu bagian dari batu bata penyusun peradaban tegaknya Al-Islam di bumi ini.
Dalam firman Allah Surah Fushshilat (41:33) "Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal shalih, dan berkata, 'Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?'". Ayat ini menjadi pilar bagi para aktivis muslimah untuk selalu membekali diri lalu terjun dengan ikhlas hanya mengharap ridho Allah di setiap geraknya. Ia tidak akan meremehkan sekecil apapun amal sholeh untuk fastabiqul khoirot, berlomba-lomba dalam kebajikan. Keistiqomahannya akan selalu diuji seiring dengan perjalanan karir dakwahnya.
Adapun beberapa tadzkirah/peringatan dan nasehat untuk mujahidah dakwah* :
Pertama, sesungguhnya fungsi seorang daiyah bukanlah memukul dan menegur manusia dengan keras. Bukan pula mengorek aib dan mencela mereka.
"Serulah mereka ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik serta bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu adalah Yang lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (Qs. an-Nahl [16]: 125).
Kedua, jalan dakwah ini penuh dengan rintangan
Jalan dakwah tidak semulus jalan tol. Pejuang dakwah muslimah tentu pernah merasakan mendapat deraan, cobaan dan permasalahan dengan kadar dan tingkat berbeda-beda. Pemenang sejati adalah yang sabar melaluinya, menghadapinya dengan segala hikmah. Tidak sedikit yang akhirnya menyerah, putus asa bahkan kabur dari gelanggang dakwah karena tidak sabar. Ia pikir dakwah mudah dilalui dengan instan, cepat menghasilkan. Padalah Nabi Nuh AS saja yang berdakwah selama 5 abad dan notabene ia adalah seorang Rasul hanya mendapatkan sedikit sekali pengikut. Hal ini juga terjadi di semua lini dakwah. Seungguhnya fokus utama bukanlah pada result/hasil namun pada process/proses, karena Allah sangat menghargai sebuah proses yang dilakukan hamba-Nya apalagi jika itu berbuah keridhoan-Nya.
"Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan dari orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu dan orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu sabar dan bertaqwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan" Ali Imran [3]: 186
Ketiga, hendaknya seorang daiyah selalu merasa gelisah dengan kondisi manusia dan tidak berputus asa. Ketika melihat seorang perempuan yang dengan bangganya mengumbar dan memamerkan auratnya, tidak menjaga kehormatannya, hati kita perih. Ketika melihat para wanita menjadi korban asusila, kekerasan rumah tangga dan perdagangan manusia nurani kita terpanggil untuk membelanya. Dengan sigap merespon dan mengambil sikap sesuai dengan kapasitasnya. Di tempat kita berpijak, banyak menyuguhkan pelbagai permasalahan perempuan yang harus ditangani dengan serius.
Keempat, sesungguhnya jalan dakwah ini dipenuhi oleh orang-oang yang kembali, murtad dan berbalik ke belakang (kepada kekafiran). Hendaknya kita bersabar dan tidak membebani mereka dengan sesuatu yang tidak mereka mampui. Kita dituntut untuk bijak dalam kondisi apapun.
Kelima, hendaknya seorang daiyah memperhatikan aspek pembinaan dan pengembangan jiwa sesuai kemampuan, ilmu dan akhlak yang dimilikinya. Membiasakan diri melakukan kegiatan yang baik.
Memprioritaskan amal dalam setiap perbuatannya, mendahulukan wajib dari yang sunnah, mendahulukan sunnah dari yang mubah. Ia berusaha dalam sehari tidak ada pada kamusnya kegiatan yang sia-sia. Coba cek kembali agenda harian kita, sudahkah porsinya tepat? Sudah tertunaikankah wajibat-wajibat yang harus kita penuhi sebagai kader dakwah?
Saya jadi teringat kisah seorang ummahat dalam sebuah buku non fiksi, kumpulan cerita kader dakwah dengan segala lika-liku perjuangannya. Ia adalah seorang ibu rumah tangga namun banyak mengisi ta'lim, pengajian dan kajian baik di lingkungan rumah atau lainnya. Ia tidur jam 10 malam lalu bangun jam 2 pagi kemudian tahajjud dan bersiap melakukan pekerjaan rumah, mencuci, menggosok, membersihkan rumah dan akhirnya pada pagi hari ia telah siap dengan sarapan yang ia buat untuk seluruh anggota keluarganya. Ia juga telah menyiapkan segala keperluan sekolah anak dan kerja suaminya. Ia tidak melewatkan satu kesempatan amal sholeh, sekecil apapun. Itulah yang ia ajarkan pada putra putrinya.Sedangkan siang harinya ia begitu lincah berperan di medan dakwahnya. Subhanallah. Terngiang-ngiang kembali perjuangan para shahabiyah Nabi yang totalitas dalam jihadnya. So Inspirized me.
Keenam, menjauhkan aspek individualis dari dakwah, karena dakwah tidak terbatas pada perorangan, kelompok atau lembaga.
Dakwah dikerjakan oleh orang-orang yang berjamaah tidak sendiri. Kita berdakwah bukan semata-mata ingin masuk surga sendirian. Bukan hanya meningkatkan kualitas diri pribadi namun menyiapkan kader dakwah, daiyah sholehah sebanyak-banyaknya agar pekerjaan dakwah menjadi lebih ringan. Ingatlah bahwa kaum kuffar tidak akan pernah berhenti bahkan tidak tidur demi menghancurkan generasi muda Islam.
Ketujuh, target dari dakwah ini bukan menjatuhkan martabat orang tertentu. Tujuan Nabi Musa AS berdakwah kepada Fir'aun bukan untuk menghakiminya namun agar memurnikan aqidahnya untuk Allah semata. Oleh karena itu sebaiknya jauhi sikap mencaci dan mencela dalam berdakwah. Seorang muslim tidak akan dengan mudah mengkafirkan muslim lainnya. Pejuang dakwah datang untuk menjatuhkan kebathilan. Saya jadi teringat sebuah nasyid yang sangat menggugah. Nasyid Izzatul Islam 'Tekad' yang saya yakin sering menjadi list di media player komputer para aktivis dakwah.
........
Kami adalah panah-panah terbujur
Yang siap dilepaskan dari busur
Tuju sasaran, siapapun pemanahnya
Kami adalah pedang-pedang terhunus
Yang siap terayun menebas musuh
Tiada peduli siapapun pemegangnya
Asalkan ikhlas di hati tuk hanya Ridho Ilahi...Robbi
Kami adalah tombak-tombak berjajar
Yang siap dilontarkan dan menghujam
Menembus dada lantakkan keangkuhan
Kami adalah butir-butir peluru
Yang siap ditembakkan dan melaju
Mengoyak dan menumbang kezaliman
Asalkan ikhlas di hati tuk jumpa wajah Ilahi...Robbi
Kami adalah mata pena yang tajam
Yang siap menuliskan kebenaran
Tanpa ragu ungkapkan keadilan
Kami pisau belati yang selalu tajam
Bak kesabaran yang tak pernah akan padam
Tuk arungi dakwah ini , jalan panjang
.....
Kedelapan, dakwah kepada Allah adalah dakwah dengan bashirah (hujan yang nyata), bashirah dalam segala hal, mulai dari jalan dakwah yang lururs, ilmu yang lururs, kondisi dan keadaan obyek dakwah, musuh dakwah dan metode yang kita gunakan, dan bashirah dengan dirinya sendiri agar ia mengetahui keinginan dan niatnya hingga tidak menjadi bias dengan urusan lain dan tercemar dengan urusan-urusan tertentu. Ingat bahwa segala amal tergantung pada niatnya. Saya berkhusnuzhon bahwa para muslimah yang begabung di jalan ini bukanlah orang-orang yang hanya ingin numpang ketenaran, memenuhi list pengalaman untuk CV nya, keren-kerenan pasang badan atau (naudzubillahimindzalik) ingin menghancurkan dari dalam. Saya juga yakin bahwa mereka adalah muslimah yang peka, tanggap, solutif dan insya Allah akan selalu istiqomah dalam jalan yang telah Allah gariskan meski mereka harus mengorbankan waktu, peluh, harta bahkan mempertaruhkan nyawa karena mereka adalah generasi rabbani yang dekat dengan tuhannya.
*disarikan dari buku Kiprah Dakwah Muslimah
Tulisan ini dibuat untuk mentaujih diri pribadi dan saudara-saudari seiman yang kucinta karena Allah. Keep hamasah kawan!! Ummat menunggu uluran tanganmu!!
Cara mengesan DNA CiNtA
Wednesday, April 28, 2010
Alhamdulillah, walhamdulillah,
wa La Illaha Illah,
Allahu akbar,
Allahu akbar,
Allahu akbar
Apa khabar jiwa semua? Apa khabar iman-iman semua? Di harap kita semua sentiasa berada dalam kemanisan iman hendaknya..
Subhanallah, sahabat-sahabat! jiwa kita sangat special. Allah kurniakan kita jiwa, mata hati sampai mampu menjelma-kan DNA dakwah itu. Masya Allah, ana kagum dengan kebolehan ilham Allah swt yang mampu menjelma-kan ilmu sains itu sampaikan mampu menghubung kaitkan dengan kefahaman kita dengan dakwah ini.. Tajamkan mata hati semua..
Masya Allah!
Masya Allah!
Masya Allah!
Subahanallah! Kekaguman paling besar adalah buat Sang Pencipta. Kerna kalau bukan kerna DIA yang menciptakan nescaya siapalah kita untuk melihat..
itulah salah satu 'sign' yang Allah tunjukkan pada kita..
"Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira mendahului kedatangan rahmat Nya (hujan), sehingga apabila angin itu membawa awan mendung, Kami halau ke satu daearah yang tandus, lalu kami turunkan hujan di daerah itu. Kemudian kami tumbuhkan dengan hujan itu berbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang yang telah mati, mudah mudahan kamu mengambil pelajaran." Al A'raf 7 :57
"Dialah yang menurunkan air (hujan) dari langit untuk kamu, sebahagian mejadi minuman dan sebahagiannya (menyuburkan) tumbuhan, padanya kamu mengembalakan ternakmu
Dengan (air hujan) itu Dia menumbuhkan untuk kamu tanam-tanaman, zaitun, kurma, anggur, dan segala macma buah-buahan. Sungguh,pada yang demikian itu, benar-benar terdapat tanda (kebesaran) Allah bagi orang yang berfikir
Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu, dan bintang-bintang dikendalikan dengan perintahNya. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi yang mengerti.
Dan (Dia juga mengendalikan) apa yang Dia ciptakan untukmu di bumi ini dengan berbagai jenis dan macam warnanya. Sungguh, pada yang demikian benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang mengambil pengajaran"(An Nahl, 16: 10-13)
Sungguh-kan dari sekecil-kecil ciptaan pun, kalaulah mata hati kita berfungsi, kita mampu untuk melihat setiap ciptaan itu dan menghubungkan kait dengan seruan dakwah ini..
Ingat tak gambar ni, DNA replication kan? Hari tu ingat tak analogy kite? Analogy yang buat ramai orang dalam dewan ter'nganga' tu?
Dakwah ni, beban yang sedia tergalas bagi setiap muslem bagi setiap jiwa yang melafazkan La illaha Illah wa Muhammadur rasullullah.
Apa iktibar dari proses Replication ini yang mampu kita kaitkan dengn dakwah ini..
Dakwah ni ibarat DNA REPLICATiON kan,
Kita ibarat new strand of DNA yang hendak di hasilkan. Maklumat yang hendak di bawa bergantung kepada template yang di salin.The old strand ibarat template untuk menghasilkan the new one, dan dalam tarbiyyah ini templatenya tak lain dan tak bukan-->>
"Sesungguhnya aku tinggalkan kepada kamu dua perkara,yang sekiranya kamu berpegang teguh dan mengikuti kedua-duanya ,nescaya kamu tidak akan tersesat selama-lamanya.Itulah Al-Quran dan Sunnahku" [Khutbah terakhir Muhammad s.a.w.]
iyye, Al Quran dan Sunnah
Proses ini sangatlah rapi, kerana sedikit kesalahan pastinya akan menyebabkan berlakunya mutation pada strand tersebut, yang seterusnya menyebabkan berubahnya data yang tersimpan dalam new DNA itu. Samalah juga kan, dalam tarbiyyah ini, kita perlu di asuh, di bersihkan, di sibghahkan dengan Sibghah Allah, tanpa sebarang mutation.
dan...
Tak semua orang akan lalui jalan tarbiyyah ini dengan senang, tak semua orang akan jadi leading strand yang senang je di synthesisekan oleh Polymerase, Kadang-kala, mungkin kita susah,mungkin kita lagging strand, sikit-sikit. Macam lagging strand, kat situlah kita perlukan kawan, sahabat, ukhti, murabbiah, naqibah atd. Yang bertindak seperti Helicase untuk cantumkan kan apa yang kita dah dapat, betulkan, sempurnakan. Cantum Okazaki Fragments tu jadi satu strand yang lurus. Yang akhirnya menjadi seperti leading strand itu.
Kemudian, NEW DNA itu di releasekan, dan dia juga akan di 'salin' pada waktu yang lain. Kalaulah maklumat yang kita bawa salah, kalaulah imej, akhlak, fikrah yang kita bawa E-R-R-O-R pastinya, the next NEW DNA ataupun mRNA akan ter E-R-R-O-R jugak..
Dan kita harus sedar, proses ni bukanlah hanya satu, berpuluh ribu DNA lain juga sedang di bina, sepertilah kita dalam tarbiyyah ini, semua orang sedang di bina, sedang dibentuk, Sama ada leading or lagging strand, matlamatnya sama. Templatenya satu. Dan semua nya bekerja untuk menghasilkan yang terbaik untuk organism itu hidup dengan sempurna. Samalah juga, sedar atau tidak, dalam proses pembentukan individu musleem ini, kita adalah unit asas untuk membangunkan ISLAM itu kelak, kalaulah kita ter E-R-R-OR kita akan di eliminatekan, cell itu akan mati, dan banyak lagi cell-cell lain, DNA-DNA lain yang akan menggantikan kita.
Nak ke kita menyebabkan cell itu di apoptosiskan, mahupun di necrosiskan??
Fikirlah, untuk menjadi musleem kaffah, Bukan mudah, ianya bukannya satu process yang senang. Namun ianya bukan suatu yang mustahil. Janji itu tetap benar dan kalaulah kita enggan pastinya ada yang lain yang sentiasa menunggu-nunggu untuk SYAHID di jalan ini..
"Jika kamu tidak berangkat (untuk berperang), niscaya Allah akan menghukum kamu dengan azab yang pedih dan menggantikan kamu dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan merugikanNYA sedikit pun. Dan Allah Maka Berkuasa atas segala sesuatu." [9:39]
"dan demikian pula kami menjadikan kamu (ummat islam) ummat ''pertengahan'' agar kamu menjadi saksi atas perbuatan manusia dan agar Rasul menjadi saksi atas perbuatan kamu..."[2:143]..
wallahu'alam..
maafkan kalau ada ter'pening' dengan analogy ini, maafkan andai salah kefahaman ana~
Semoga semua mampu menjadi DNA yang disibghahkan dengan sibghatulllah..insya ALLAH..
ALLAH MENGATUR SEGALA URUSAN
Friday, April 2, 2010

Kita bertauhid melalui dua cara, pertama bertauhid dengan akal dan keduanya bertauhid dengan hati. Bidang akal ialah ilmu dan liputan ilmu sangat luas, bermula dari pokok kepada dahan-dahan dan seterusnya kepada ranting-ranting. Setiap ranting ada hujungnya, iaitu penyeleaiannya. Ilmu bersepakat pada perkara pokok, bertolak ansur pada cabangnya dan berselisih pada rantingnya atau penyelesaiannya. Jawapan kepada sesuatu masalah selalunya berubah-ubah menurut pendapat baharu yang ditemui. Apa yang dianggap benar pada mulanya dipersalahkan pada akhirnya. Oleh sebab sifat ilmu yang demikian orang awam yang berlarutan membahas tentang sesuatu perkara boleh mengalami kekeliruan dan kekacauan fikiran. Salah satu perkara yang mudah mengganggu fikiran ialah soal takdir atau Qadak dan Qadar. Jika persoalan ini diperbahaskan hingga kepada yang halus-halus seseorang akan menemui kebuntuan kerana ilmu tidak mampu mengadakan jawapan yang konkrit. Qadak dan Qadar diimani dengan hati. Tugas ilmu ialah membuktikan kebenaran apa yang diimani. Jika ilmu bertindak menggoyangkan keimanan maka ilmu itu harus disekat dan hati dibawa kepada tunduk dengan iman. Kalam Hikmat keempat di atas membimbing ke arah itu agar iman tidak dicampur dengan keraguan.
Selama nafsu dan akal menjadi hijab, beriman kepada perkara ghaib dan menyerah diri secara menyeluruh tidak akan dicapai. Qadak dan Qadar termasuk dalam perkara ghaib.
Perkara ghaib disaksikan dengan mata hati atau basirah. Mata hati tidak dapat memandang jika hati dibungkus oleh hijab nafsu. Nafsu adalah kegelapan, bukan kegelapan yang zahir tetapi kegelapan dalam keghaiban.
Kegelapan nafsu itu menghijab sedangkan mata hati memerlukan cahaya ghaib untuk melihat perkara ghaib. Cahaya ghaib yang menerangi alam ghaib adalah cahaya roh kerana roh adalah urusan Allah s.w.t. Cahaya atau nur hanya bersinar apabila sesuatu itu ada perkaitan dengan Allah s.w.t.Allah adalah cahaya bagi semua langit dan bumi. ( Ayat 35 : Surah an-Nur )
Dialah Yang Maha Tinggi darjat kebesaran-Nya, yang mempunyai Arasy (yang melambangkan keagungan dan kekuasaan-Nya); Ia memberikan wahyu darihal perintah-Nya kepada sesiapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya (yang telah dipilih menjadi Rasul-Nya), supaya Ia memberi amaran (kepada manusia) tentang hari pertemuan, – ( Ayat 15 : Surah al-Mu’min )
Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu (wahai Muhamma
d) – Al-Quran sebagai roh (yang menghidupkan hati) dengan perintah Kami; engkau tidak pernah mengetahui (sebelum diwahyukan kepadamu); apakah Kitab (Al-Quran) itu dan tidak juga mengetahui apakah iman itu; akan tetapi Kami jadikan Al-Quran: cahaya yang menerangi, Kami beri petunjuk dengannya sesiapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) adalah memberi petunjuk dengan Al-Quran itu ke jalan yang lurus, – Iaitu jalan Allah yang memiliki dan menguasai yang ada di langit dan yang ada di bumi. Kepada Allah jualah kembali segala urusan. ( Ayat 52 & 53 : Surah asy-Syura )
Apabila cahaya roh berjaya menghalau kegelapan nafsu, mata hati akan menyaksikan yang ghaib. Penyaksian mata hati membawa hati beriman kepada perkara ghaib dengan sebenar-benarnya.
Allah s.w.t telah menghamparkan jalan yang lurus kepada hamba-hamba-Nya yang beriman. Dia berfirman:
Pada hari ini, Aku telah sempurnakan bagi kamu agama kamu, dan Aku cukupkan nikmat-Ku kepada kamu, dan Aku telah redakan Islam itu menjadi agama untuk kamu. ( Ayat 3 : Surah al-Maa’idah )
Umat Islam adalah umat yang paling bertuah kerana Allah s.w.t telah menyempurnakan nikmat-Nya ke atas mereka dengan mengurniakan Islam. Allah s.w.t menjamin juga bahawa Dia reda menerima Islam sebagai agama mereka. Jaminan Allah s.w.t itu sudah cukup bagi mereka yang menuntut keredaan Allah s.w.t untuk tidak menoleh ke kiri atau ke kanan, sebaliknya terus berjalan mengikut landasan yang telah dibina oleh Islam. Islam adalah perlembagaan yang lengkap mencakupi semua aspek kehidupan baik yang zahir mahupun yang batin. Islam telah menjelaskan apa yang mesti dibuat, apa yang mesti tidak dibuat, bagaimana mahu bertindak menghadapi sesuatu dan bagaimana jika tidak mahu melakukan apa-apa. Segala peraturan dan kod etika sudah dijelaskan dari perkara yang paling kecil hingga kepada yang paling besar. Sudah dijelaskan cara beribadat, cara berhubungan sesama manusia, cara membahagikan harta pusaka, cara mencari dan membelanjakan harta, cara makan, cara minum, cara berjalan, cara mandi, cara memasuki jamban, cara hukum qisas cara melakukan hubungan kelamin, cara menyempurnakan mayat dan semua aspek kehidupan diterangkan dengan jelas.
Umat Islam tidak perlu bertengkar tentang penyelesaian terhadap sesuatu masalah. Segala penyelesaian telah dibentangkan, hanya tegakkan iman dan rujuk kepada Islam itu sendiri nescaya segala pertanyaan akan terjawab. Begitulah besarnya nikmat yang dikurniakan kepada umat Islam. Kita perlulah menjiwai Islam untuk merasai nikmat yang dikurniakan itu. Kewajipan kita ialah melakukan apa yang telah Allah s.w.t aturkan sementara hak mengatur atau mentadbir adalah hak Allah s.w.t yang mutlak. Jika terdapat peraturan Allah s.w.t yang tidak dipersetujui oleh nafsu kita, jangan pula melentur peraturan tersebut atau membuat peraturan baharu, sebaliknya nafsu hendaklah ditekan supaya tunduk kepada peraturan Allah s.w.t.
Jika pendapat akal sesuai dengan Islam maka yakinilah akan kebenaran pendapat tersebut, dan jika penemuan akal bercanggah dengan Islam maka akuilah bahawa akal telah tersilap di dalam perkiraannya. Jangan memaksa Islam supaya tunduk kepada akal semasa yang akan berubah pada masa yang lain, tetapi tundukkan akal kepada apa yang Tuhan kata yang kebenarannya tidak akan berubah sampai bila-bila.
Orang yang mengamalkan tuntutan Islam disertai dengan beriman kepada Qadak dan Qadar, jiwanya akan sentiasa tenang dan damai. Putaran roda kehidupan tidak membolak-balikkan hatinya kerana dia melihat apa yang berlaku adalah menurut apa yang mesti berlaku. Dia pula mengamalkan kod yang terbaik dan dijamin oleh Allah s.w.t. Hatinya tunduk kepada hakikat bahawa Allah s.w.t yang mentadbir sementara sekalian hamba berkewajipan taat kepada-Nya, tidak perlu masuk campur dalam urusan-Nya.
Mungkin timbul pertanyaan apakah orang Islam tidak boleh menggunakan akal fikiran, tidak boleh mentadbir kehidupannya dan tidak boleh berusaha membaiki kehidupannya? Apakah orang Islam mesti menyerah bulat-bulat kepada takdir tanpa tadbir?
Allah s.w.t menceritakan tentang tadbir orang yang beriman:
Maka Yusuf pun mulailah memeriksa tempat-tempat barang mereka, sebelum memeriksa tempat barang saudara kandungnya (Bunyamin), kemudian ia mengeluarkan benda yang hilang itu dari tempat simpanan barang saudara kandungnya. Demikianlah Kami jayakan rancangan untuk (menyampaikan hajat) Yusuf. Tidaklah ia akan dapat mengambil saudara kandungnya menurut undang-undang raja, kecuali jika dikehendaki oleh Allah. (Dengan ilmu pengetahuan), Kami tinggikan pangkat kedudukan sesiapa yang Kami kehendaki; dan tiap-tiap yang berilmu pengetahuan, ada lagi di atasnya yang lebih mengetahui. (Ayat 76 : Surah Yusuf )
Dan kepunyaan-Nya jualah kapal-kapal yang berlayar di lautan laksana gunung-ganang. (Ayat 24 : Surah ar-Rahmaan )
Nabi Yusuf a.s, dengan kepandaiannya, mengadakan muslihat untuk membawa saudaranya, Bunyamin, tinggal dengannya. Kepandaian dan muslihat yang pada zahirnya diatur oleh Nabi Yusuf a.s tetapi dengan tegas Allah s.w.t mengatakan Dia yang mengatur muslihat tersebut dengan kehendak dan kebijaksanaan-Nya. Kapal yang pada zahirnya dibina oleh manusia tetapi dengan tegas Allah s.w.t mengatakan kapal itu adalah kepunyaan-Nya. Ayat-ayat di atas memberi pengajaran mengenai tadbir yang dilakukan oleh manusia.
Rasulullah s.a.w sendiri menganjurkan agar pengikut-pengikut baginda s.a.w mentadbir kehidupan mereka. Tadbir yang disarankan oleh Rasulullah s.a.w ialah tadbir yang tidak memutuskan hubungan dengan Allah s.w.t, tidak berganjak dari tawakal dan penyerahan kepada Tuhan yang mengatur pentadbiran dan perlaksanaan. Janganlah seseorang menyangka apabila dia menggunakan otaknya untuk berfikir maka otak itu berfungsi dengan sendiri tanpa tadbir Ilahi. Dari mana datangnya ilham yang diperolehi oleh otak itu jika tidak dari Tuhan? Allah s.w.t yang membuat otak, membuatnya berfungsi dan Dia juga yang mendatangkan buah fikiran kepada otak itu. Tadbir yang dianjurkan oleh Rasulullah s.a.w ialah tadbir yang sesuai dengan al-Quran dan as-Sunah. Islam hendaklah dijadikan penapis untuk mengasingkan pendapat dan tindakan yang benar dari yang salah. Islam menegaskan bahawa sekiranya tidak kerana daya dan upaya dari Allah s.w.t, pasti tidak ada apa yang dapat dilakukan oleh sesiapa pun. Oleh yang demikian seseorang mestilah menggunakan daya dan upaya yang dikurniakan Allah s.w.t kepadanya menurut keredaan Allah s.w.t. Seseorang hamba Allah s.w.t tidak sepatutnya melepaskan diri dari penyerahan kepada Allah Yang Maha Mengatur. Apabila apa yang diaturkannya berjaya menjadi kenyataan maka dia akui bahawa kejayaan itu adalah kerana persesuaian aturannya dengan aturan Allah s.w.t. Jika apa yang diaturkannya tidak menjadi, diakuinya bahawa aturannya wajib tunduk kepada aturan Allah s.w.t dan tidak menjadi itu juga termasuk di dalam tadbir Allah s.w.t. Hanya Allah s.w.t yang berhak untuk menentukan. Allah s.w.t Berdiri Dengan Sendiri, tidak ada sesiapa yang mampu campur tangan dalam urusan-Nya.
trimas >>>> daygku iman
Labels:
diari,
nukilan catatan
Subscribe to:
Posts (Atom)




