♥♥Lebaran ukhwah♥♥

Tazakirah 'speacial' untuk mujahidah!

Tuesday, May 4, 2010

Bismillahirrahmanirrahim,
Sungguh beruntung menjadi orang yang terpilih, menjadi seorang da'i. Mau tidak mau, suka tidak suka karena ia tidak hidup sendiri. Ada orang lain yang menjadi obyek dakwahnya. Keluarga, anak-anak, tetangga, teman sekolah, kampus, kerja dan siapa saja yang berinteraksi dengannya. Ia tidak dapat mengelak, ketika disadari bahwa ia adalah seorang muslimah maka ia membawa panji keislamannya. Ketika ia adalah seorang mahasiswi di kampusnya maka ia wajib menjaga nama baik almamaternya. Ketika ia adalah seorang kader dakwah maka ia membawa identitasnya dan segala tindak-tanduk yang ia perbuat akan mencerminkan wajihahnya tersebut. Meskipun ada khauf (takut) ketika terbayang bahwa kita belum mampu mengemban amanah ini dengan baik, di satu sisi saya yakin ia juga menyimpan roja (harapan) agar bisa menjadi satu bagian dari batu bata penyusun peradaban tegaknya Al-Islam di bumi ini.

Dalam firman Allah Surah Fushshilat (41:33) "Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal shalih, dan berkata, 'Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?'". Ayat ini menjadi pilar bagi para aktivis muslimah untuk selalu membekali diri lalu terjun dengan ikhlas hanya mengharap ridho Allah di setiap geraknya. Ia tidak akan meremehkan sekecil apapun amal sholeh untuk fastabiqul khoirot, berlomba-lomba dalam kebajikan. Keistiqomahannya akan selalu diuji seiring dengan perjalanan karir dakwahnya.

Adapun beberapa tadzkirah/peringatan dan nasehat untuk mujahidah dakwah* :

Pertama, sesungguhnya fungsi seorang daiyah bukanlah memukul dan menegur manusia dengan keras. Bukan pula mengorek aib dan mencela mereka.
"Serulah mereka ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik serta bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu adalah Yang lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (Qs. an-Nahl [16]: 125).

Kedua, jalan dakwah ini penuh dengan rintangan
Jalan dakwah tidak semulus jalan tol. Pejuang dakwah muslimah tentu pernah merasakan mendapat deraan, cobaan dan permasalahan dengan kadar dan tingkat berbeda-beda. Pemenang sejati adalah yang sabar melaluinya, menghadapinya dengan segala hikmah. Tidak sedikit yang akhirnya menyerah, putus asa bahkan kabur dari gelanggang dakwah karena tidak sabar. Ia pikir dakwah mudah dilalui dengan instan, cepat menghasilkan. Padalah Nabi Nuh AS saja yang berdakwah selama 5 abad dan notabene ia adalah seorang Rasul hanya mendapatkan sedikit sekali pengikut. Hal ini juga terjadi di semua lini dakwah. Seungguhnya fokus utama bukanlah pada result/hasil namun pada process/proses, karena Allah sangat menghargai sebuah proses yang dilakukan hamba-Nya apalagi jika itu berbuah keridhoan-Nya.
"Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan dari orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu dan orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu sabar dan bertaqwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan" Ali Imran [3]: 186

Ketiga, hendaknya seorang daiyah selalu merasa gelisah dengan kondisi manusia dan tidak berputus asa. Ketika melihat seorang perempuan yang dengan bangganya mengumbar dan memamerkan auratnya, tidak menjaga kehormatannya, hati kita perih. Ketika melihat para wanita menjadi korban asusila, kekerasan rumah tangga dan perdagangan manusia nurani kita terpanggil untuk membelanya. Dengan sigap merespon dan mengambil sikap sesuai dengan kapasitasnya. Di tempat kita berpijak, banyak menyuguhkan pelbagai permasalahan perempuan yang harus ditangani dengan serius.

Keempat, sesungguhnya jalan dakwah ini dipenuhi oleh orang-oang yang kembali, murtad dan berbalik ke belakang (kepada kekafiran). Hendaknya kita bersabar dan tidak membebani mereka dengan sesuatu yang tidak mereka mampui. Kita dituntut untuk bijak dalam kondisi apapun.

Kelima, hendaknya seorang daiyah memperhatikan aspek pembinaan dan pengembangan jiwa sesuai kemampuan, ilmu dan akhlak yang dimilikinya. Membiasakan diri melakukan kegiatan yang baik.

Memprioritaskan amal dalam setiap perbuatannya, mendahulukan wajib dari yang sunnah, mendahulukan sunnah dari yang mubah. Ia berusaha dalam sehari tidak ada pada kamusnya kegiatan yang sia-sia. Coba cek kembali agenda harian kita, sudahkah porsinya tepat? Sudah tertunaikankah wajibat-wajibat yang harus kita penuhi sebagai kader dakwah?
Saya jadi teringat kisah seorang ummahat dalam sebuah buku non fiksi, kumpulan cerita kader dakwah dengan segala lika-liku perjuangannya. Ia adalah seorang ibu rumah tangga namun banyak mengisi ta'lim, pengajian dan kajian baik di lingkungan rumah atau lainnya. Ia tidur jam 10 malam lalu bangun jam 2 pagi kemudian tahajjud dan bersiap melakukan pekerjaan rumah, mencuci, menggosok, membersihkan rumah dan akhirnya pada pagi hari ia telah siap dengan sarapan yang ia buat untuk seluruh anggota keluarganya. Ia juga telah menyiapkan segala keperluan sekolah anak dan kerja suaminya. Ia tidak melewatkan satu kesempatan amal sholeh, sekecil apapun. Itulah yang ia ajarkan pada putra putrinya.Sedangkan siang harinya ia begitu lincah berperan di medan dakwahnya. Subhanallah. Terngiang-ngiang kembali perjuangan para shahabiyah Nabi yang totalitas dalam jihadnya. So Inspirized me.

Keenam, menjauhkan aspek individualis dari dakwah, karena dakwah tidak terbatas pada perorangan, kelompok atau lembaga.
Dakwah dikerjakan oleh orang-orang yang berjamaah tidak sendiri. Kita berdakwah bukan semata-mata ingin masuk surga sendirian. Bukan hanya meningkatkan kualitas diri pribadi namun menyiapkan kader dakwah, daiyah sholehah sebanyak-banyaknya agar pekerjaan dakwah menjadi lebih ringan. Ingatlah bahwa kaum kuffar tidak akan pernah berhenti bahkan tidak tidur demi menghancurkan generasi muda Islam.

Ketujuh, target dari dakwah ini bukan menjatuhkan martabat orang tertentu. Tujuan Nabi Musa AS berdakwah kepada Fir'aun bukan untuk menghakiminya namun agar memurnikan aqidahnya untuk Allah semata. Oleh karena itu sebaiknya jauhi sikap mencaci dan mencela dalam berdakwah. Seorang muslim tidak akan dengan mudah mengkafirkan muslim lainnya. Pejuang dakwah datang untuk menjatuhkan kebathilan. Saya jadi teringat sebuah nasyid yang sangat menggugah. Nasyid Izzatul Islam 'Tekad' yang saya yakin sering menjadi list di media player komputer para aktivis dakwah.

........
Kami adalah panah-panah terbujur
Yang siap dilepaskan dari busur
Tuju sasaran, siapapun pemanahnya

Kami adalah pedang-pedang terhunus
Yang siap terayun menebas musuh
Tiada peduli siapapun pemegangnya

Asalkan ikhlas di hati tuk hanya Ridho Ilahi...Robbi

Kami adalah tombak-tombak berjajar
Yang siap dilontarkan dan menghujam
Menembus dada lantakkan keangkuhan

Kami adalah butir-butir peluru
Yang siap ditembakkan dan melaju
Mengoyak dan menumbang kezaliman

Asalkan ikhlas di hati tuk jumpa wajah Ilahi...Robbi

Kami adalah mata pena yang tajam
Yang siap menuliskan kebenaran
Tanpa ragu ungkapkan keadilan

Kami pisau belati yang selalu tajam
Bak kesabaran yang tak pernah akan padam
Tuk arungi dakwah ini , jalan panjang
.....

Kedelapan, dakwah kepada Allah adalah dakwah dengan bashirah (hujan yang nyata), bashirah dalam segala hal, mulai dari jalan dakwah yang lururs, ilmu yang lururs, kondisi dan keadaan obyek dakwah, musuh dakwah dan metode yang kita gunakan, dan bashirah dengan dirinya sendiri agar ia mengetahui keinginan dan niatnya hingga tidak menjadi bias dengan urusan lain dan tercemar dengan urusan-urusan tertentu. Ingat bahwa segala amal tergantung pada niatnya. Saya berkhusnuzhon bahwa para muslimah yang begabung di jalan ini bukanlah orang-orang yang hanya ingin numpang ketenaran, memenuhi list pengalaman untuk CV nya, keren-kerenan pasang badan atau (naudzubillahimindzalik) ingin menghancurkan dari dalam. Saya juga yakin bahwa mereka adalah muslimah yang peka, tanggap, solutif dan insya Allah akan selalu istiqomah dalam jalan yang telah Allah gariskan meski mereka harus mengorbankan waktu, peluh, harta bahkan mempertaruhkan nyawa karena mereka adalah generasi rabbani yang dekat dengan tuhannya.

*disarikan dari buku Kiprah Dakwah Muslimah
Tulisan ini dibuat untuk mentaujih diri pribadi dan saudara-saudari seiman yang kucinta karena Allah. Keep hamasah kawan!! Ummat menunggu uluran tanganmu!!

2 comments:

cahaya yg malap said...

hah,,bhse indon!! sjak bile ko jdi rakyt indonesia ni..haha

izas said...

hahaha..biasalah bila ada ceweks indon yg sudi berkongsi kan warta utk smua...mekasih....:)

There was an error in this gadget
 

♥AsmaulHusa♥

ღ♥HijRiahღ♥

♥Malaysia♥

~Kehidupan~

Archives

ღ♥UsRah Jannatiღ♥

Blogger news

Blogroll

get this widget here

Most Reading

Gambar renungan

Total Pageviews